Low Vision Color
Preset Color Skins
  • In partnership with

    Text size:  A+ | Reset | A-

    Kegiatan Komunitas Kreatif di Bajoe, Bone, Sulawesi Selatan mempertunjukkan lakon teater "Carita Pole Ri Seddi Wanua” (cerita dari salah satu desa). Para anak ini berunjuk rasa mengembalikan fungsi lapangan untuk tempat bermain. 

    Setelah berlatih sekitar dua bulan, akhirnya puluhan anak yang tergabung dalam Komunitas Kreatif Bajoe (KKB) mempertontonkan kemampuan aktingnya. Lewat lakon teater “Carita Pole Ri Seddi Wanua” (cerita dari salah satu desa) yang dipentaskan di lapangan terbuka, pada Kamis dan Jumat tanggal 8-9 Januari 2014 malam, mereka sukses membuat 500-an orang penonton berdecak kagum.

    Bahkan celetukan-celetukan mereka yang lucu, tak pelak membuat penonton yang memadati kawasan Jalan Veteran Kelurahan Bajoe terbahak-bahak. Pementasan tersebut menggambarkan kehidupan warga setempat, dengan kearifan lokal yang mengagumkan untuk hidup berdampingan dengan laut. Meski kini sudah banyak di antara mereka yang menetap di rumah-rumah sederhana, tetapi kediamannya tetap tidak terpisahkan dari wilayah perairan.

    Dikisahkan pada suatu pagi, puluhan siswa sekolah dasar di Kelurahan Bajoe Kecamatan Bajoe Bone, sedang sangat menikmati berbagai permainan tradisional. Seperti majjeka-jeka (petak umpet), mallongga (engrang), anging-anging (meliuk-liuk melawan arah angin), dan maccukke. Sesekali, gelak tawa mereka terdengar.
     
    Hanya saja ketika anak-anak tersebut beranjak remaja, serbuan berbagai alat permainan modern seperti play station, laptop, telepon genggam, dan komputer tablet tak mampu mereka hindari. Sehingga secara perlahan permainan tradisional yang biasa dilakoni, tak lagi meramaikan lapangan tempat mereka bermain.
     
    Begitupun pembangunan yang pesat, akhirnya membuat mereka terpaksa kehilangan lapangan itu, yang berganti jadi hotel berbintang. Tak terima, mereka pun berunjuk rasa memprotes pihak terkait dan meminta fungsi lapangan tersebut dikembalikan, sehingga mereka dapat bermain seperti sedia kala.
     
    Meski hanya berakting, sejumlah pemeran dan warga setempat mengaku mendapatkan pelajaran besar dari kegiatan yang diselenggarakan oleh PNPM Support Facility (PSF), PNPM Mandiri Pedesaan (MP), Generasi Sehat Cerdas (GSC), dan Yayasan Kelola itu, melalui Program Komunitas Kreatif (KK) 2.
     
    Apalagi program tersebut memang ditujukan untuk memperkuat proses pemberdayaan masyarakat kelompok marginal di pedesaan. Melalui program ini, diharapkan mereka dapat menyalurkan aspirasi secara kreatif melalui kegiatan seni visual, tari, musik, dan peran, untuk meningkatkan keterlibatannya dalam proses pembangunan desa.
     
    “Terutama pengetahuan bermain teater yang selama ini dikenal sangat sulit. Tapi lebih dari itu, kami belajar cara menyampaikan aspirasi. Apa yang seharusnya kami dapatkan, harus diperjuangkan. Aspirasi anak-anak juga harus didengarkan oleh pemerintah,” kata salah seorang pemeran, Andi Dewi Riani. Siswa kelas IX SMP 7 Watampone itu lebih lajut mengatakan, anak-anak muda tidak boleh melupakan permainan tradisional, yang terbukti mampu menanamkan pendidikan karakter, serta menumbukan kesehatan jiwa, fisik, dan mental.
     
    Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah seorang ibu rumah tangga, Nilawati Umar. “Nappaku mita pada-pada iye. Macca tongeng ni anana’e (baru kali ini saya melihat tontonan seperti ini. Mereka sudah sangat pintar). Lewat tontonan tadi, saya juga sepakat kalau warga harus terlibat dalam kegiatan pembangunan. Paling tidak, menyampaikan aspirasi melalui musyawarah desa,” kata pimpinan Vocal Grup Indo Logo itu, yang juga tampil sebelum pementasan teater tersebut dimulai.
     
    Nilawati juga sangat mengapresiasi Mainteater Bandung, yang telah memberikan pelatihan selama dua bulan kepada anak-anak itu sebelum pementasan. Sementara penulis naskah “Carita Pole Ri Seddi Wanua” Yopi Setia Umbara mengaku tidak mengalami kesulitan selama memberikan pelatihan kepada anggota KKB dalam dua bulan terakhir. Dikatakan, semangat belajar mereka sangat tinggi, sehingga tim Mainteater Bandung selaku pemenang Hibah Program Komunitas Kreatif mudah saja mengarahkan para pelakon.
     
    Bahkan ketika tiba di Bajoe, lanjut Yopi, mereka disambut gembira oleh warga setempat. Tingginya minat anak-anak dan remaja yang ingin berpartisipasi pada kegiatan tersebut, membuat tim Mainteater terpaksa harus menyeleksi calon pemain. “Kami tidak membeda-bedakan, apakah mereka masih sekolah atau tidak. Semua kami beri kesempatan. Sepertinya, mereka memang sangat haus hiburan dan ingin memperdalam ilmu teater,” kata dia.
     
    Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya juga dibantu oleh warga dalam mengadakan segala macam kebutuhan properti dalam pementasan ini. Bahkan warga juga tidak segan-segan meminjamkan berbagai peralatan yang dibutuhkan. Sementara untuk sosialisasi kegiatan tersebut kepada pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya, Mainteater dibantu oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) PNPM MP Kelurahan Bajoe dan Tim Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) PNPM MP Kecamatan Tanete Riattang Timur. Diakui Yopi, berkat dukungan tersebut, rencana pementasan “Carita Pole Ri Seddi Wanua” tersebar luas dengan cepatnya. 

    Pujian atas pementasan teater tersebut juga dilontarkan oleh Fasilitator Kabupaten PNPM Mandiri Pedesaan Kabupaten Bone, Ali Bas. Menurutnya, dari beberapa kegiatan yang telah diselenggarakan oleh PNPM sebelumnya, pementasan teater itulah yang paling sukses dan sangat dinantikan oleh warga. Terbukti kata dia, selama dua hari pementasan acara itu selalu dipadati ratusan warga. 

    Ali Bas menambahkan, ada kebanggaan tersendiri menyaksikan anggota KKB tersebut. Dia juga berharap, agar kegiatan serupa tidak berhenti setelah pementasan “Carita Pole Ri Seddi Wanua”. Dia juga berjanji akan terus mendukung Komunitas Kreatif Bajoe di masa mendatang. Dikatakan, kegiatan yang dilakukan oleh KKB merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas secara individu atau kelompok. 

    “Kegiatan tersebut masuk dalam kategori positive list PNPM MP, yang dapat kita biayai. Jadi kelompok dapat mengajukan proposal kegiatan, jika sesuai dengan persyaratan yang kami tetapkan, kegiatan mereka akan kita danai,” tegas Ali Bas. 

    Hal senada juga disampaikan oleh Ketua TPK PNPM MP Bajoe Andi Kashmir. Ia bahkan meminta kepada Mainteater Bandung, untuk menyusun konsep pertujukan yang akan dipentaskan pada pelaksanaan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat Kelurahan Bajoe dalam waktu dekat ini. 

    Sejalan dengan permintaan ini, Mainteater memang telah menunjuk beberapa pemuda lokal untuk bisa memperoleh langsung transfer keahlian dalam bidang penyutradaraan, penataan tari, dan penulisan naskah.

    “Supaya ada kaderisasi, dan Mainteater tetap meninggalkan karya meski telah meninggalkan Bajoe. Kami sangat berharap, anggota Mainteater suatu saat dapat meluangkan waktu untuk berkunjung lagi ke Bajoe. Yang pasti, kedatangan dan kerjasama mereka dengan kami sangat baik selama mereka ada di sini (Bajoe),” kata Andi.

    Penulis M Syahlan

    Blog Yayasan Kelola