Low Vision Color
Preset Color Skins
  • In partnership with

    Text size:  A+ | Reset | A-

    Kegiatan Komunitas Kreatif Malaka memanfaatkan medium gambar (visual) dan suara (audio) sebagai pemantau kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Hal-hal yang menjadi isu dalam riset visual tersebut merupakan bagian dari indikator atau alat ukur keberhasilan bagi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Generasi Sehat Cerdas (PNPM-GSC) di posyandu.

    06 Februari 2014

    Teknologi informasi dan komunikasi adalah capaian tertinggi peradaban manusia di era abad saat ini. Dengannya, bumi yang bulat dan lebar bisa mudah berubah bentuk, mengecil dan berlubang-lubang. Seperti halnya saat kita memainkan aplikasi pengolah grafis yang terinstalasi di dalam komputer, dengan sewenang-wenang kita bisa mempersempit globe atau bahkan mendistorsinya menjadi gepeng. Melalui proses ini, suara yang jernih serta gambar (citra) yang nyata akan dunia beserta manusianya mampu memuaskan hasrat ingin tahu kita, hingga jarak dan kontak fisik sudah tak penting lagi.

    Lahir dari teknologi informasi dan komunikasi atau tepatnya teknologi media massa, video yang merupakan medium gambar (visual) dan suara (audio) dimanfaatkan oleh para remaja di desa Malaka kabupaten Lombok Utara sebagai pemantau kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Lima remaja yang tergabung dalam Komunitas Kreatif Malaka (KKM) itu merekam kegiatan pelayanan posyandu dusun Pandanan kepada ibu hamil, bayi dan balita dengan menggunakan kamera video. KKM juga mewawancarai sejumlah ibu guna mengetahui pendapat tentang manfaat posyandu bagi mereka. Aktivitas merekam dengan menggunakan kamera video disebut oleh KKM sebagai riset visual.

    Riset visual yang dilakukan KKM berfokus pada pelayanan posyandu dalam memberikan fasilitas kesehatan terhadap Ibu beserta kandungannya, atau bayi dan balita. Contoh fasilitas yang diobservasi antara lain pemeriksaan dan penanganan kelahiran oleh dokter atau bidan, pemberian vitamin, serta imunisasi dan pengukuran berat badan. KKM juga merekam sudut pandang pengguna posyandu, yakni ibu, bayi dan balitanya, dengan melihat bagaimana ibu memperhatikan kondisi bayi ataupun balitanya dengan selalu memeriksakannya ke posyandu. Hal-hal yang menjadi isu dalam riset visual tersebut merupakan bagian dari indikator atau alat ukur keberhasilan bagi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Generasi Sehat Cerdas (PNPM-GSC) di posyandu.

    Hasil riset visual yang berupa data video kemudian dipresentasikan atau dipertontonkan kepada warga, khususnya perempuan ataupun ibu-ibu, dengan bantuan pesawat televisi. Salah satu anggota KKM yang bernama Sarimah menuturkan bahwa presentasi video digelar di 10 titik lokasi di sekitar dusun. Presentasi video diselenggakan di tempat terbuka agar menarik perhatian warga. “Setelah video hasil riset visual diputar dan ditonton, kemudian kami meminta tanggapan pada warga yang hadir”, tutur Sarimah.

    Presentasi video tersebut berhasil menunjukkan bahwa video adalah medium yang sangat efektif untuk membantu warga dalam berpendapat. Kekuatan citra atau gambar video yang mirip dengan fakta obyeknya, membuatnya menjadi layaknya cermin bagi penontonnya. Dengan bantuan pertanyaan yang diajukan anggota KKM, refleksi warga kemudian berujung pada pernyataan atau pendapat warga, bahkan bisa berlanjut dengan diskusi. “Hasil diskusi dari setiap titik lokasi presentasi video akan disimpulkan dan lalu disampaikan kembali pada warga lewat pameran video partisipatif yang kami akan gelar nanti di dua posyandu yang ada di dusun Pandanan”, ujar Sarimah.

    KKM dan Program Komunitas Kreatif II

    Terbentuknya KKM adalah salah satu hasil dari proses pemberdayaan yang dilakukan oleh fasilitator dalam program Komunitas Kreatif (KK) II, yang diselenggarakan pada akhir bulan April hingga awal Juli 2013. Aktivitas KKM yang bertema “Monitoring dan Evaluasi Program PNPM GSC di Posyandu dengan Menggunakan Video Partisipatif di dusun Pandanan” merupakan realisasi rencana tindak lanjut (RTL) yang disusun paska digelarnya program KK II. Kegiatan tindak lanjut ini didanai oleh Yayasan KELOLA, dengan dukungan keterlibatan secara langsung PNPM-GSC kecamatan Pemenang sebagai mitra kerja KKM.

    Rameli selaku fasilitator kecamatan (Faskec) PNPM-GSC Pemenang mengaku tertarik dengan model pemberdayaan yang dilakukan oleh KKM. Sebab, pengalaman program KK II yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa video tidak saja menjadi bukti konkrit, namun juga berhasil membuat warga terlibat atau berpartipasi. Hal inilah yang membuatnya mau terlibat sejak awal, mulai dari penyusunan RTL KKM paska program KK II hingga pelaksanaannya kini, yang sudah dimulai sejak bulan oktober 2013. “Hasil monitoring dan evalusi terhadap posyandu dengan menggunakan video partisipatif yang dilakukan oleh KKM, akan kami gunakan sebagai acuan dalam penyusunan program PNPM-GSC tahun 2014”, ujar Rameli.

    Manfaat program KK II juga ditegaskan kembali oleh seorang kader PNPM-GSC di tingkat dusun yang bernama Haerani. Ibu selaku ketua kader posyandu ini turut terlibat aktif dan membantu kegiatan pemantauan yang dilaksanakan oleh KKM. Menurutnya, kegiatan yang dilakukan KKM membantu tugasnya, khususnya dalam menyadarkan warga terhadap pentingnya memeriksakan kesehatan ibu, anak dan balita. Sebab, meski selama ini tingkat kehadiran ibu-ibu di posyandu dusun Pandanan sudah dinilai bagus oleh PNPM-GSC, namun masih saja ada sejumlah ibu yang malas datang. “Kami seringkali terpaksa menjemput mereka yang malas datang”, tegas Haerani. Oleh sebab itu Haerani sangat berharap kegiatan KKM terus dilanjutkan.

    Sementara itu bagi KKM, kegiatan pemantauan ini tidak saja meningkatkan kapasitas mereka, namun juga semakin diakuinya keberadaan dan manfaat kegiatan yang mereka lakukan. Hal ini dibuktikan dengan diberikannya fasilitas berupa sekretariat untuk KKM oleh pemerintah desa Malaka, berupa salah satu ruangan di kantor desa Malaka. Menurut sekretaris KKM, Nanda Yulifitri, dukungan dari pemerintah desa adalah semangat sekaligus tantangan bagi KKM untuk terus melanjutkan kegiatan. Bagi Nanda beserta rekannya yang lain yakni, Sahrun, Sarimah, Rifah dan Lili Kartini, video partisipatif selanjutnya akan dimanfaatkan pula untuk memantau kegiatan sosial dan pembangunan lainnya yang ada di desa.

    Penulis  Roni Setiawan

    Blog       Yayasan Kelola